
Merdeka yang Tak Selalu Dirayakan dengan Gegap Gempita
Oleh: Charles Nasution — Wartawan Beritamerdekaonline.com
Agustus datang lagi. Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana kota perlahan berubah. Imbauan pemerintah untuk mengibarkan Bendera Merah Putih disampaikan melalui berbagai kanal informasi, termasuk media Dinas Kominfo.
Satu per satu bendera mulai terpasang di halaman rumah. Merah Putih berkibar di depan kantor, sekolah, pertokoan, jalan lingkungan, hingga sudut-sudut kota dan perkampungan. Umbul-umbul berdiri di sepanjang jalan. Lagu-lagu perjuangan kembali terdengar.
Anak-anak mulai berlatih untuk perlombaan. Warga bergotong royong menyiapkan berbagai kegiatan. Lapangan-lapangan kecil kembali menjadi tempat berkumpul. Ada tawa anak-anak. Ada riuh warga. Ada perlombaan sederhana yang sering kali lebih banyak melahirkan gelak tawa daripada mempersoalkan siapa yang menjadi pemenang. Begitulah Indonesia merayakan kemerdekaan. Meriah, sederhana, dan penuh kebersamaan.
Namun, di balik semua kegembiraan itu, ada sebuah pertanyaan yang mungkin perlu kita bawa sedikit lebih jauh. Apa arti kemerdekaan bagi kita hari ini? Pertanyaan tersebut penting karena kemerdekaan yang kita nikmati telah melewati perjalanan panjang. Generasi hari ini tidak mengalami langsung bagaimana rasanya hidup di bawah penjajahan. Kita tidak mendengar dentuman senjata di medan perang. Tidak menyaksikan para pejuang mempertaruhkan nyawa demi sebuah kata yang sekarang begitu mudah diucapkan, yaitu “Merdeka”.
Kita lahir dalam sebuah negeri yang telah berdiri sebagai negara berdaulat. Maka, bentuk perjuangan kita pun berubah. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan bambu runcing, senjata, diplomasi dan pengorbanan jiwa, hari ini perjuangan hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks, kemiskinan. ketimpangan, korupsi, kebodohan. ketidakadilan, intoleransi, hingga hilangnya kepedulian sosial.
Penjajahan mungkin telah pergi dari tanah air. Namun, perjuangan untuk memastikan setiap warga benar-benar merasakan kemerdekaan belum selesai.
Ketika Merdeka Berarti Hal-Hal Sederhana
Bagi seorang anak, kemerdekaan mungkin sesederhana kesempatan untuk bersekolah dan bermain tanpa rasa takut. Bagi seorang ibu, kemerdekaan berarti mampu menyediakan makanan untuk keluarganya setiap hari. Bagi seorang ayah, kemerdekaan mungkin berupa pekerjaan yang layak, sehingga ia tidak harus pergi jauh meninggalkan keluarga hanya untuk menyambung hidup. Bagi seorang petani, kemerdekaan berarti hasil panennya dihargai dengan harga yang pantas.
Bagi pedagang kecil, kemerdekaan bisa sesederhana dagangannya laku dan dapur tetap mengepul. Bagi generasi muda, kemerdekaan berarti memiliki kesempatan untuk bermimpi, belajar, berkarya dan menentukan masa depan tanpa dibatasi keadaan. Dan bagi seorang jurnalis, kemerdekaan berarti dapat menjalankan profesinya dengan menyajikan karya jurnalistik berdasarkan data dan fakta, berpegang pada kode etik, serta bekerja tanpa intimidasi dan ancaman.
Di titik inilah makna kemerdekaan terasa begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia tidak selalu hadir dalam pidato kenegaraan. Kadang kemerdekaan hadir dalam sepiring nasi yang cukup untuk satu keluarga, dalam buku yang mampu dibeli seorang anak sekolah, dalam pekerjaan yang memberikan penghasilan layak, dalam rasa aman ketika seseorang berjalan di lingkungannya sendiri, dalam kebebasan menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab. Karena itu, kemerdekaan semestinya tidak berhenti pada upacara bendera.
Merah Putih dan Ingatan tentang Pengorbanan
Setiap kali Merah Putih dikibarkan, sesungguhnya kita sedang mengibarkan sebuah ingatan. Ingatan tentang mereka yang pernah berjuang. Sebagian nama mereka tercatat dalam buku sejarah. Sebagian lainnya mungkin hanya dikenang oleh keluarga dan masyarakat di tempat mereka berasal. Sejarah bangsa tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar yang namanya dihafalkan sejak bangku sekolah.
Ada rakyat biasa yang ikut berjuang. Ada ibu yang kehilangan anaknya. Ada keluarga yang kehilangan orang tua. Ada pemuda yang meninggalkan rumah dan mungkin tidak pernah kembali. Mereka tidak berjuang agar namanya dikenang setiap Agustus. Mereka berjuang agar generasi setelahnya dapat hidup dalam sebuah negeri yang bebas menentukan nasib sendiri.
Maka, ketika bendera dikibarkan, pertanyaan yang pantas kita ajukan bukan hanya: “Sudah merdekakah Indonesia?” Tetapi juga: “Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga kemerdekaan itu?”.
Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna
Kemerdekaan dapat kehilangan makna ketika ketidakadilan dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ia kehilangan makna ketika korupsi hanya menjadi berita yang dibaca pagi hari, kemudian dilupakan beberapa jam setelahnya. Ia kehilangan makna ketika kemiskinan hanya dilihat sebagai angka statistik. Ia kehilangan makna ketika hukum terasa tajam kepada mereka yang lemah, tetapi tumpul terhadap mereka yang memiliki kekuasaan. Ia juga kehilangan makna ketika masyarakat tidak lagi memiliki keberanian untuk menyampaikan kebenaran karena takut terhadap tekanan.
Sebab bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang terbebas dari penjajahan. Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memberikan ruang bagi warganya untuk hidup bermartabat. Ada keadilan, ada kepastian hukum, ada pendidikan, ada pekerjaan, ada perlindungan, ada kesempatan, dan yang tidak kalah penting, ada rasa bahwa setiap warga negara memiliki tempat yang sama di negeri ini. Tidak ada yang merasa menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri.
Merdeka Tidak Harus Selalu Heboh
Di tengah kemeriahan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, mungkin kita perlu mengambil sedikit jeda. Tidak semua perjuangan harus dilakukan dengan pidato besar. Tidak semua pengabdian harus mendapatkan penghargaan. Tidak semua kebaikan harus dipublikasikan. Ada perjuangan yang berlangsung diam-diam.
Seorang guru yang tetap mengajar meski menghadapi keterbatasan. Seorang petugas kebersihan yang bekerja sebelum kota terbangun. Seorang petani yang tetap pergi ke sawah ketika sebagian orang masih terlelap. Seorang ibu yang setiap hari memastikan anaknya berangkat sekolah. Seorang warga yang memilih bergotong royong ketika persoalan di lingkungan sebenarnya bukan tanggung jawabnya. Mereka mungkin tidak pernah berdiri di atas panggung menerima penghargaan. Nama mereka mungkin tidak pernah masuk berita. Namun dari tangan-tangan seperti itulah kehidupan sebuah bangsa terus berjalan.
Kemerdekaan juga dirawat melalui hal-hal sederhana yaitu bekerja dengan jujur, menghormati orang lain, menjaga lingkungan, memenuhi kewajiban, tidak menyebarkan kebencian, membantu mereka yang kesulitan, serta berani mengatakan benar ketika sesuatu yang salah mulai dianggap lumrah.
Barangkali inilah bentuk patriotisme yang paling sederhana. Tidak selalu berteriak. Tidak selalu mengibarkan spanduk. Tidak selalu tampil di depan kamera. Tetapi hadir dalam tindakan.
Mengisi Kemerdekaan Setiap Hari
Republik tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai merayakan kemerdekaan. Republik membutuhkan orang-orang yang bersedia mengisi kemerdekaan. Sebab perjuangan tidak selesai ketika Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan justru menjadi awal dari perjalanan panjang. Perjalanan untuk membangun bangsa. Mencerdaskan kehidupan rakyat. Menciptakan keadilan sosial. Memastikan anak-anak Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik.
Karena itu, kemerdekaan tidak selesai pada 17 Agustus. Ia diperjuangkan setiap hari. Di ruang kelas. Di pasar. Di sawah. Di kantor. Di jalan raya. Di ruang sidang. Di ruang pelayanan publik. Bahkan di dalam rumah kita sendiri.
Setiap kali kita memilih kejujuran daripada kebohongan, kita sedang merawat kemerdekaan. Setiap kali kita menolak korupsi, kita sedang menjaga kemerdekaan. Setiap kali kita membantu sesama tanpa memandang latar belakangnya, kita sedang menghidupkan semangat kemerdekaan. Dan setiap kali kita berani menyuarakan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab, kita sedang memastikan bahwa kemerdekaan tidak hanya menjadi kata dalam buku sejarah.
Merdeka yang Sesungguhnya
Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya menghitung kemerdekaan dari berapa banyak bendera yang terpasang atau seberapa meriah perlombaan digelar. Kemeriahan tetap penting. Ia adalah ekspresi kegembiraan sebuah bangsa. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting setelah pesta selesai.
Apakah masyarakat semakin sejahtera? Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak? Apakah hukum memberikan rasa keadilan? Apakah orang miskin mendapatkan kesempatan? Apakah perbedaan dapat diterima tanpa kebencian? Apakah rakyat merasa aman menyampaikan pendapat? Dan yang paling mendasar: Apakah setiap anak bangsa benar-benar merasa merdeka di negerinya sendiri.
Pertanyaan itu mungkin tidak memiliki jawaban sederhana. Tetapi justru karena itulah ia harus terus ditanyakan. Sebab kemerdekaan bukan sekadar sebuah tanggal dalam kalender.
Kemerdekaan adalah tanggung jawab.
Ia adalah warisan yang harus dijaga. Ia adalah janji yang harus terus diwujudkan. Ketika bendera Merah Putih kembali berkibar di langit Agustus, semoga kita tidak hanya melihat dua warna pada selembar kain.
Semoga kita melihat pengorbanan. Melihat harapan. Melihat masa depan. Dan melihat diri kita sendiri sebagai bagian dari perjalanan panjang untuk membuat Indonesia benar-benar merdeka. Bukan hanya merdeka dari penjajahan, tetapi juga dari ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan, ketakutan dan hilangnya martabat manusia.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa meriah kita merayakannya, melainkan seberapa sungguh kita menjaganya.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan