Bupati, Jon Firman Pandu bersama Bunda Literasi Kabupaten Solok, Nia Jon Firman Pandu dan Para Kepala OPD Terkait.

Solok, Berita Merdeka Online — Kabupaten Solok kini menapaki babak baru dalam gerakan literasi. Dengan dikukuhkannya Nia Jon Firman Pandu sebagai Bunda Literasi Kabupaten Solok pada Selasa, 22 Juli 2025, pemerintah daerah menaruh harapan besar terhadap kemajuan budaya baca dan tulis di tengah masyarakat, mulai dari pusat kota hingga pelosok nagari.
Pengukuhan yang dilakukan langsung oleh Bupati Solok, Jon Firman Pandu, di Aula Perpustakaan Daerah tersebut menandai langkah serius Pemerintah Kabupaten Solok dalam memperkuat ekosistem literasi sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia.

“Literasi adalah fondasi utama dalam membentuk masyarakat yang cerdas dan adaptif. Kami berharap Bunda Literasi bisa menjadi penggerak utama dalam membangun semangat membaca, menulis, dan berpikir kritis di semua lapisan masyarakat,” ujar Bupati Jon Firman Pandu.

Menghidupkan Literasi dari Akar Rumput
Tantangan literasi di Kabupaten Solok bukan hanya terletak pada rendahnya akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga kurangnya kesadaran kolektif akan pentingnya budaya literasi dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah peran Bunda Literasi diharapkan memberi dampak nyata.

Nia Jon Firman Pandu, yang juga Ketua TP-PKK Kabupaten Solok, menyampaikan komitmennya untuk menjadikan gerakan literasi sebagai bagian dari agenda bersama berbagai elemen masyarakat.

“Kami ingin membawa literasi lebih dekat ke rumah-rumah warga, ke sekolah, ke surau, dan ke posyandu. Literasi bukan semata tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama, terutama keluarga,” kata Nia.

Ia bertekad menghidupkan kegiatan seperti pojok baca di nagari, pelatihan menulis kreatif untuk remaja, serta kolaborasi dengan komunitas literasi dan taman bacaan masyarakat (TBM). Upaya ini juga akan melibatkan organisasi perempuan dan sekolah sebagai garda terdepan perubahan.
Hadirnya Bunda Literasi bukan sekadar representasi formal. Ia diharapkan menjadi sosok teladan yang menginspirasi, baik melalui kebiasaan membaca, semangat belajar, maupun keterlibatannya dalam kegiatan literasi secara langsung.

“Seorang Bunda Literasi harus menjadi figur yang dicintai anak-anak, disegani remaja, dan dihormati komunitas. Bukan karena jabatannya, tapi karena kiprahnya,” ujar Zulmarnus, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Solok.

Bupati, Jon Firman Pandu bersama Bunda Literasi Kabupaten Solok, Nia Jon Firman Pandu dan Para Kepala OPD Terkait.

Zulmarnus menambahkan, Kabupaten Solok memiliki potensi besar untuk menjadi daerah yang unggul dalam literasi, terlebih dengan dukungan geografis yang kaya akan nilai lokal, tradisi lisan, dan cerita rakyat yang bisa digali menjadi kekuatan literatif.
Literasi diartikan secara luas sebagai kemampuan memahami, mengolah, dan menggunakan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks inilah, literasi bukan sekadar membaca buku, tetapi juga memahami lingkungan, menjaga warisan budaya, dan menanamkan nilai-nilai kebajikan melalui cerita.

Dengan hadirnya Bunda Literasi baru, Pemerintah Kabupaten Solok berharap gerakan literasi tidak berhenti di pusat kota, tetapi mengalir hingga ke kaki bukit, lereng danau, dan surau-surau kecil di nagari. Dari sana, tumbuh masyarakat yang tidak hanya mampu membaca, tetapi juga mampu menulis masa depannya sendiri.

“Kami ingin mewujudkan Kabupaten Solok sebagai kabupaten literasi yang berdaya saing, tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai lokal. Literasi bukan tujuan akhir, tapi jembatan menuju masyarakat yang berpengetahuan dan bermartabat,” ujar Bupati. (Ikhsan)

 


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.