SIKKA, Berita Merdeka Online – Warga di tiga dusun di Desa Du, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengalami krisis air bersih setelah gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 menyebabkan longsor dan menimbun sumber Mata Air Wair Meak.

Tiga wilayah yang terdampak langsung gangguan akses air bersih tersebut adalah Dusun Wolonkepik, Dusun Ragaregong, dan Dusun Du. Mata Air Wair Meak yang selama ini menjadi salah satu sumber kebutuhan air masyarakat dilaporkan tertimbun material longsor pascagempa.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga, terutama masyarakat yang sedang berupaya memulihkan aktivitas sehari-hari setelah bencana.

Dedi Parera, staf DPD RI, mengatakan informasi mengenai kondisi warga pertama kali diterimanya melalui komunikasi telepon dari salah seorang masyarakat Desa Du. Warga menyampaikan bahwa pascagempa pada 15 Agustus 2026, akses terhadap sumber air bersih mengalami gangguan akibat longsor.

Dedi Parera bersama Kepala Desa Du, Bhabinkamtibmas dan tokoh masyarakat mendistribusikan bantuan air bersih kepada warga tiga dusun pascagempa di Kecamatan Lela, Sikka.

 

Mendapatkan informasi tersebut, Dedi kemudian melakukan komunikasi dan memastikan langsung kondisi yang terjadi kepada Pemerintah Desa Du.

“Setelah mendengarkan keluhan masyarakat penyintas gempa, saya kemudian memastikan langsung kepada Pemerintah Desa Du. Dari informasi yang kami peroleh, memang benar Mata Air Wair Meak tertimbun material longsor sehingga masyarakat di tiga dusun mengalami kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Dedi Parera.

Menurutnya, sumber Mata Air Wair Meak berada di wilayah Desa Sikka, tepatnya Dusun Wukur, namun selama ini menjadi salah satu sumber air yang dimanfaatkan masyarakat di wilayah terdampak.

Melihat kebutuhan air bersih yang semakin mendesak, Dedi Parera mengambil langkah untuk mengomunikasikan kondisi tersebut kepada Angelius Wake Kako, Anggota DPD RI yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I Komite II DPD RI.

Komunikasi itu dilakukan untuk menyampaikan langsung kondisi masyarakat penyintas gempa serta persoalan yang dihadapi warga akibat terganggunya akses terhadap air bersih.

Menurut Dedi, penanganan kebutuhan dasar masyarakat pascabencana membutuhkan perhatian dan respons cepat, terutama terhadap ketersediaan air bersih yang digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

“Keluhan masyarakat penyintas pascagempa kami sampaikan agar kondisi di lapangan dapat diketahui. Dalam situasi seperti ini, air bersih merupakan salah satu kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat,” ujarnya.

Setelah melakukan koordinasi dan menerima informasi mengenai kondisi di lapangan, Dedi turun langsung untuk melihat keadaan warga serta membantu pendistribusian air bersih.

Distribusi Air Bersih untuk Tiga Dusun

Dalam kegiatan tersebut, Dedi Parera didampingi Kepala Desa Du, Yansen Paskalis, Bhabinkamtibmas Bripka Longginus Manna, serta tokoh masyarakat setempat.

Mereka bersama-sama melakukan pendistribusian bantuan air bersih ke bak penampungan yang melayani tiga dusun terdampak, yakni Wolonkepik, Ragaregong, dan Du.

Kehadiran pemerintah desa, aparat keamanan, tokoh masyarakat, serta pihak yang membantu distribusi air diharapkan dapat mempercepat penanganan kebutuhan dasar warga selama akses terhadap Mata Air Wair Meak belum pulih.

Dedi mengatakan penyaluran air bersih merupakan langkah awal untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan yang dialami pascabencana.

“Melihat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat membuat kami memahami bahwa kebutuhan air bersih harus segera mendapat perhatian. Karena itu, hari ini kami turun langsung untuk membantu pendistribusian air bersih ke bak penampungan masyarakat di tiga dusun,” katanya.

Gangguan terhadap sumber air menjadi persoalan serius bagi masyarakat pascabencana. Selain kebutuhan untuk minum dan memasak, air bersih juga dibutuhkan untuk menjaga kebersihan dan mendukung aktivitas warga sehari-hari.

Kondisi Mata Air Wair Meak yang tertimbun material longsor kini menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah setempat. Pemulihan akses air bersih diharapkan dapat segera dilakukan agar warga tidak terus bergantung pada bantuan distribusi air.

Dalam situasi pascagempa, koordinasi antara pemerintah desa, masyarakat, aparat terkait, dan para pihak yang memiliki kewenangan menjadi penting untuk memastikan kebutuhan dasar warga dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

Peristiwa ini juga menunjukkan bagaimana informasi dan keluhan yang disampaikan masyarakat dapat menjadi dasar bagi langkah cepat untuk membantu warga terdampak. Hingga akses terhadap sumber air kembali normal, distribusi air bersih menjadi salah satu upaya penting dalam membantu masyarakat Desa Du, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, melewati masa pemulihan pascagempa.

Tim BMO Jabodetabek


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.