GAYO LUES, BERITA MERDEKA ONLINE Rencana pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana banjir dan longsor di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, hingga Rabu (26/8/2026) masih berada dalam proses tender.

Pembangunan huntap tersebut menjadi perhatian masyarakat karena sejumlah rumah warga mengalami kerusakan akibat bencana alam yang terjadi beberapa bulan lalu. Sebagian bangunan bahkan dilaporkan hanyut terbawa arus sehingga warga terdampak harus meninggalkan tempat tinggal mereka dan mengungsi ke lokasi yang lebih aman.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Gayo Lues, Jakaria, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Rabu (26/8/2026), menyampaikan bahwa pembangunan hunian tetap untuk korban bencana belum dimulai.

“Untuk saat sekarang belum pembangunan hunian tetap. Nanti kita informasikan,” kata Jakaria.

Pembangunan hunian tetap bagi korban banjir dan longsor di Kabupaten Gayo Lues masih dalam proses tender.

 

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gayo Lues, Muhaimin, menjelaskan bahwa pemerintah telah merencanakan pembangunan hunian tetap bagi masyarakat yang terdampak bencana.

Menurutnya, huntap tersebut direncanakan menggunakan tipe 36 dengan jumlah sekitar 2.454 unit. Namun, pembangunan fisik belum dapat dilakukan karena tahapan pengadaan masih berlangsung.

“Rencana pembangunan rumah hunian tetap tipe 36 sekitar 2.454 unit. Saat sekarang masih proses tender,” ujar Muhaimin.

Tahapan tender menjadi bagian penting sebelum pembangunan fisik dimulai. Setelah proses pengadaan selesai dan seluruh ketentuan administratif terpenuhi, pembangunan huntap diharapkan dapat segera dilaksanakan sesuai rencana pemerintah.

Bencana banjir dan longsor tidak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Warga yang kehilangan rumah membutuhkan tempat tinggal yang aman dan layak agar dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.

Pemerintah sebelumnya telah menyediakan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat yang terdampak. Hunian tersebut menjadi tempat perlindungan sementara selama proses pemulihan dan pembangunan kembali tempat tinggal warga.

Namun, keberadaan huntara pada dasarnya merupakan solusi sementara. Masyarakat tetap membutuhkan kepastian mengenai pembangunan hunian tetap agar dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih normal.

Warga berharap pembangunan 2.454 unit huntap di Gayo Lues mendapat perhatian serius dari pemerintah dan seluruh pihak terkait. Mereka berharap proses tender dapat berjalan sesuai ketentuan sehingga pembangunan tidak mengalami keterlambatan yang berlarut-larut.

Pembangunan hunian tetap bukan hanya berkaitan dengan penyediaan rumah, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat pascabencana. Dengan memiliki tempat tinggal yang layak, warga diharapkan dapat kembali beraktivitas, bekerja, menjalankan usaha, serta memulihkan kondisi ekonomi keluarga.

Pemerintah daerah juga diharapkan memberikan informasi secara berkala mengenai perkembangan proses tender dan jadwal pembangunan. Keterbukaan informasi penting agar masyarakat terdampak mengetahui tahapan yang sedang berjalan sekaligus memperoleh kepastian mengenai rencana relokasi dan pembangunan tempat tinggal mereka.

Dengan demikian, pembangunan huntap di Kabupaten Gayo Lues diharapkan dapat segera memasuki tahap pelaksanaan setelah proses tender selesai. Kecepatan pembangunan tetap perlu diiringi dengan kepatuhan terhadap aturan pengadaan dan standar pembangunan agar hunian yang dihasilkan benar-benar aman, layak, dan dapat digunakan masyarakat dalam jangka panjang. (KS)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.