WONOGIRI, Berita Merdeka Online — Pemerintah Kabupaten Wonogiri menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk secara serentak di 25 kecamatan sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Pagelaran budaya tersebut berlangsung pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026, dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Wonogiri. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Bulukerto, tempat warga berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan wayang kulit yang dibawakan dalang putra daerah, Ki Didik Prasetyo.
Kegiatan ini menjadi momentum kebangkitan kembali seni pewayangan di Wonogiri. Menurut informasi yang berkembang di tengah masyarakat dan pelaku budaya, pagelaran wayang kulit dalam skala besar seperti ini sudah cukup lama tidak mendapat ruang secara serentak di seluruh kecamatan.
Dengan digelarnya pertunjukan di 25 kecamatan, masyarakat tidak hanya diajak menikmati hiburan tradisional, tetapi juga kembali mengenal nilai-nilai luhur yang terkandung dalam cerita pewayangan.

Wayang kulit selama ini dikenal sebagai bagian penting dari khazanah budaya Indonesia. Di dalam setiap lakon, terdapat pesan moral, nilai kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, perjuangan, hingga gambaran tentang kehidupan manusia.
Dalam pagelaran serentak tersebut, para dalang membawakan kisah yang mengangkat cerita Ramayana, dengan konflik utama antara Prabu Rama dan penguasa Alengka, Rahwana atau Dasamuka.
Cerita berpusat pada perjalanan Rama dalam mempertahankan kesetiaan dan memperjuangkan Dewi Sinta yang diculik oleh Rahwana. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi peperangan besar antara dua kekuatan yang digambarkan mewakili pertarungan antara kebaikan dan keangkaramurkaan.
Dalam tradisi pewayangan, kisah Ramayana tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga mengandung berbagai filosofi kehidupan. Karakter setiap tokoh memberikan gambaran tentang sifat manusia, mulai dari keberanian, kesetiaan, kesabaran, kecerdikan hingga keserakahan dan ambisi.
Karena itu, pagelaran wayang kulit kerap disebut sebagai “tontonan sekaligus tuntunan”. Nilai-nilai yang disampaikan melalui dialog, tokoh dan alur cerita menjadi media pendidikan budaya yang dapat diwariskan kepada generasi muda.
Di Kecamatan Bulukerto, antusiasme masyarakat terlihat dari kehadiran warga yang datang untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit hingga malam hari.
Ki Didik Prasetyo, dalang putra daerah Bulukerto, tampil menghibur masyarakat dengan membawakan lakon pewayangan yang sarat pesan moral. Kehadiran dalang lokal juga menjadi bagian dari upaya memberikan ruang bagi seniman daerah untuk terus menjaga dan mengembangkan kesenian tradisional.
Pagelaran tersebut turut dihadiri Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Wonogiri, H. Tarso, S.I.P. Kehadirannya menambah perhatian terhadap pelestarian budaya wayang kulit sebagai warisan yang memiliki nilai sejarah dan filosofi.
“Wayang adalah budaya yang mengandung sejarah dan filosofi yang luar biasa,” ujar H. Tarso, S.I.P., di sela kegiatan pagelaran wayang kulit.
Menurutnya, kesenian tradisional perlu terus dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan perubahan pola hiburan masyarakat.
Peringatan HUT ke-81 RI di Kabupaten Wonogiri tahun ini tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial dan perlombaan rakyat, tetapi juga menjadi momentum untuk mengangkat kembali seni dan budaya lokal.
Pagelaran wayang kulit serentak di 25 kecamatan menjadi bentuk pelibatan masyarakat dalam merayakan kemerdekaan melalui kebudayaan. Kegiatan tersebut juga mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, seniman, tokoh masyarakat hingga warga.
Pelestarian wayang kulit dinilai penting di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan industri hiburan modern. Regenerasi dalang, seniman karawitan, pengrajin serta penonton menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan kesenian tersebut.
Melalui pertunjukan yang digelar secara serentak, masyarakat diharapkan semakin dekat dengan warisan budaya bangsa. Selain menjadi hiburan, wayang kulit dapat menjadi sarana memperkuat identitas budaya serta menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi penerus.
Pagelaran wayang kulit di 25 kecamatan Kabupaten Wonogiri pun menjadi salah satu warna dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekaligus penanda pentingnya menjaga budaya adiluhung agar tetap hidup, dikenal, dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Kastomo)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan