Beritamerdekaonline.com, Jakarta – Haru biru menyelimuti peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61 yang diselenggarakan di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, pada Rabu, 12 November 2025.
Ketika seorang perawat tangguh yang berdinas di pelosok Maluku Tenggara (Malra) tak pernah mengenal lelah saat membantu pasien dan korban bencana.
Perempuan itu, Ana Verawati Fofid yang bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas Debut), Kecamatan Manyeuw Kabupaten Maluku Tenggara, Propinsi Maluku.
Perawat dari Malra ini secara resmi menerima penghargaan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia (MenKes RI), Budi Gunadi Sadikin atas dedikasi dan pengabdian dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Penghargaan bergengsi itu diberikan kepada para pegawai negeri sipil (PNS) yang telah mengabdi selama satu dekade lebih dengan dedikasi tanpa cela di bidang kesehatan.

Bagi Vera, penghargaan ini bukan sekadar penghargaan tetapi simbol perjuangan panjang dan ketulusan hati melayani masyarakat di wilayah kepulauan yang jauh dari sorotan media dan media sosial.
“Penghargaan ini saya dedikasikan untuk kedua orang tua, keluarga besar, Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara, serta semua tenaga kesehatan di Provinsi Maluku,” tutur Vera dengan mata berkaca-kaca usai menerima penghargaan.
Perjalanan Vera menuju penghargaan ini tidak mudah. Ia harus bersaing dengan puluhan tenaga kesehatan lainnya dalam seleksi ketat di tingkat propinsi. Alhasil dari hasil seleksi itu,Vera terpilih mewakili Propinsi Maluku.
“Saya terpilih sebagai perawat berdedikasi dan bermanfaat bagi masyarakat tingkat Propinsi Maluku. Ini hasil kerja keras dan doa yang tulus,” ujarnya dengan senyum bangga.
Sosok yang dikenal rendah hati di lingkungan Puskesmas Debut itu menegaskan, dirinya tak pernah memikirkan imbalan materi atas pengabdiannya. Ia hanya berpegang teguh pada filosofi hidup masyarakat Kei, “Ain ni Ain” saling membantu tanpa melihat suku, ras, atau agama.
“Itulah marwah yang saya junjung. Pengabdian bukan soal pamrih, tapi tentang kemanusiaan tanpa membedakan latar belakangnya,” ungkapnya.
Meski telah menerima penghargaan dari Kementerian Kesehatan, Vera menegaskan bahwa prestasi ini bukanlah sebuah akhir dari perjuangan. Justru, ia melihatnya sebagai awal dari babak baru pengabdian menuju perjuangan berikutnya.
“Ini bukan akhir, tapi awal perjuangan baru untuk terus meningkatkan layanan kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil dan kepulauan yang jaraknya jauh satu dengan lainnya
,” katanya penuh semangat.
Dikesempatan sama, Vera juga menyampaikan harapannya agar Kemenkes RI lebih memperhatikan fasilitas kesehatan di Maluku, terutama Puskesmas yang masih terbatas dalam sarana dan prasarana yang terbatas.
Apalagi, kata dia jarak desa satu dengan desa lainnya bisa menempuh waktu berjam-jam. “Disini ada tiga desa dan tiga desa lainnya masih menggunakan transportasi laut,” tandasnya.
“Semoga dengan momentum ini, perhatian terhadap fasilitas tenaga kesehatan di tingkat propinsi hingga puskesmas makin meningkat,” harapnya.
Sebelumnya, Menkes Budi dalam sambutannya menegaskan bahwa penganugerahan piagam pengabdian dan kemanfaatan masyarakat merupakan bentuk penghargaan negara atas dedikasi para tenaga kesehatan yang telah bekerja dengan sepenuh hati.
“Penganugerahan ini bagian dari rangkaian Hari Kesehatan Nasional ke-61 bertema Generasi Sehat, Masa Depan Hebat. Para penerima penghargaan adalah teladan bagi bangsa,” ujar Budi.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Maluku Tenggara, Hendrik Lewerissa, nama Vera menjadi simbol inspirasi bagi tenaga kesehatan lain di tanah Kei.
Pengabdian perempuan yang dikenal ramah itu kini menjadi kebanggaan tidak hanya bagi keluarga besar Fofid, tetapi juga masyarakat Maluku Tenggara.
“Saya bersyukur bisa membawa nama daerah saya ke tingkat nasional. Semoga semangat ini menular ke tenaga kesehatan lain,” tutup Vera penuh semangat. (@ms)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan