Jon Firman Pandu – H. Candra, Bupati dan Wakil Bupati Solok didampingi Istri.
Solok, Berita Merdeka Online — Dalam lanskap pemerintahan daerah yang kerap diwarnai tantangan fiskal dan birokrasi, langkah Bupati Solok, Jon Firman Pandu (JFP) bersama Wakilnya H. Candra dalam membangun sinergi strategis antara pemerintah pusat dan daerah patut mendapat perhatian. Pola kepemimpinan yang ditunjukkan sejak awal masa jabatannya menandai sebuah paradigma baru: pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada APBD, tetapi pada jejaring koordinasi lintas kementerian dan penguatan diplomasi politik daerah.
Langkah-langkah intensif ke berbagai kementerian, mulai dari Bappenas, PUPR, hingga Kementerian Pertanian dan ESDM, menunjukkan orientasi proaktif, bukan reaktif. Strategi ini bukan sekadar upaya administratif, melainkan pendekatan diplomatik yang berbasis pada kepentingan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Upaya itu berbuah hasil: penguatan Dana Alokasi Khusus (DAK) 2026, dukungan hilirisasi komoditas pertanian, serta penambahan proyek infrastruktur vital yang sebelumnya sulit dijangkau daerah.
Keberhasilan ini tidak berdiri sendiri. Ia berpijak pada pemahaman mendalam terhadap arus kebijakan nasional. Program seperti Digitalisasi, Solok Bebas Sampah, revitalisasi sekolah, serta pengembangan layanan air bersih dengan dukungan APBN memperlihatkan bagaimana kebijakan lokal dapat menjadi kepanjangan tangan dari agenda pembangunan nasional jika dijalankan dengan koordinasi dan visi yang jelas.
Namun, yang paling menarik dari kepemimpinan Jon Firman Pandu – Candra adalah orientasi pembangunan berbasis inklusi sosial. Hadirnya Sekolah Rakyat bagi siswa kurang mampu dan program Bedah Rumah untuk 1.000 rumah tidak layak huni menunjukkan keberpihakan yang konkret kepada masyarakat bawah. Pendekatan ini bukan sekadar pencitraan sosial, tetapi investasi jangka panjang dalam kualitas manusia Solok.
Di bidang pertanian, kolaborasi dengan BNPB dan BMKG untuk operasi modifikasi cuaca, serta revitalisasi irigasi bagi 22 ribu hektare sawah adalah bentuk adaptasi terhadap krisis iklim yang makin nyata. Di sini terlihat upaya membangun ketahanan pangan berbasis inovasi dan kearifan lokal, sebuah pendekatan yang jarang diadopsi secara serius di daerah lain.
Tak kalah penting, sektor elektrifikasi dan digitalisasi menjadi perhatian utama. Program penghapusan blankspot, bantuan pasang baru listrik, hingga elektrifikasi penggilingan padi melalui program Basolek menandai transformasi ekonomi pedesaan menuju era digital dan efisiensi energi.
Capaian ini melahirkan sejumlah penghargaan nasional, salah satunya sebagai daerah tercepat dalam pengurusan badan hukum koperasi. Namun, lebih dari sekadar penghargaan, yang penting adalah daya tahan dan kesinambungan kebijakan. Tantangan terbesar bagi Bupati dan jajaran adalah memastikan bahwa semua program ini tidak berhenti sebagai proyek lima tahunan, tetapi menjadi sistem pembangunan berkelanjutan yang bisa diwariskan ke pemerintahan berikutnya.
Kepemimpinan Jon Firman Pandu -Candra menunjukkan bahwa kemajuan daerah bukan hanya soal besarnya anggaran, tetapi sejauh mana pemimpin mampu menjembatani aspirasi lokal dengan kebijakan nasional. Dalam konteks ini, Solok menjadi contoh bahwa diplomasi daerah, jika dijalankan dengan strategi dan integritas, dapat menjadi motor utama percepatan pembangunan.

Jon Firman Pandu – H. Candra, Bupati dan Wakil Bupati Solok didampingi Istri.
Masyarakat tentu berharap, keberhasilan ini terus berlanjut dan tidak berhenti pada capaian statistik. Sebab, ujung dari seluruh proses ini bukan hanya jalan yang mulus atau gedung yang berdiri, tetapi rasa keadilan dan kesejahteraan yang dirasakan oleh setiap warga di lereng Gunung Talang sampai Gunung Pantai Cermin, dari Tepian Danau Singkarak Hingga selingkaran Danau Kembar dan perbatasan dengan Kota Padang sampai Lubuek Tareh dan Perbatasan Kabuiaten tetangga. ( Nazwirman Koto )
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan