Seluma, Beritamerdekaonline.com – Universitas Bengkulu (UNIB) kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Kali ini, tim dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu memberikan pelatihan kepada kelompok pembudi daya lebah tanpa sengat atau lebah Trigona sp. (kelulut) di Desa Lubuk Gilang, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma.
Program pendampingan tersebut difokuskan pada pemanfaatan hasil lebah kelulut selain madu, yakni bee pollen, sehingga mampu meningkatkan nilai tambah produk dan membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Di Bengkulu, lebah tanpa sengat atau kelulut lebih dikenal masyarakat dengan sebutan medu gegelo.

Ketua Tim Dosen Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu, Ulfa Anis, mengatakan bahwa kegiatan pendampingan merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan fungsi pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, pendampingan dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas dan daya saingnya di pasar.
”Setelah sebelumnya kami melaksanakan pelatihan cara memanfaatkan bee pollen dan menyerahkan alat pengering tenaga surya, pada hari ini kami melaksanakan pelatihan cara pengemasan bee pollen yang sudah dikeringkan,” ujar Ulfa.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan kali ini merupakan lanjutan dari program pemberdayaan yang telah dilakukan sebelumnya. Selain memberikan materi mengenai teknik pengemasan yang baik dan sesuai standar, tim pengabdian juga membimbing peserta mengenai strategi pemasaran produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Peserta pelatihan terdiri atas pengurus dan anggota Kelompok Tani Ranger Bee. Kelompok tersebut tidak hanya beranggotakan warga Desa Lubuk Gilang, tetapi juga melibatkan pembudi daya lebah kelulut dari sejumlah desa di sekitarnya. Hal ini menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat untuk mengembangkan usaha budi daya lebah tanpa sengat sebagai salah satu sumber pendapatan keluarga.
Ulfa menuturkan bahwa pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada proses pengemasan pascapanen bee pollen. Tim dosen juga memberikan edukasi mengenai tahapan pengurusan perizinan produk agar hasil olahan masyarakat dapat dipasarkan secara lebih luas dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Menurutnya, legalitas produk menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan usaha mikro karena dapat meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas akses pemasaran, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Melalui kegiatan tersebut, Universitas Bengkulu berharap masyarakat mampu mengoptimalkan seluruh potensi hasil lebah kelulut. Selama ini, madu menjadi produk utama yang banyak dimanfaatkan, padahal bee pollen juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi apabila diolah dan dikemas dengan baik.
Pendampingan yang dilakukan diharapkan mampu meningkatkan keterampilan anggota kelompok tani dalam menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki kemasan yang menarik, serta memenuhi persyaratan perizinan. Dengan demikian, produk turunan lebah kelulut dari Desa Lubuk Gilang diharapkan mampu bersaing di pasar yang lebih luas dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Program pengabdian tersebut juga menjadi bagian dari upaya Universitas Bengkulu dalam mendukung pengembangan potensi lokal berbasis sumber daya alam. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, potensi budi daya lebah kelulut di Kabupaten Seluma diharapkan terus berkembang sehingga tidak hanya menghasilkan madu, tetapi juga berbagai produk turunan bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan para pembudi daya.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan