Kabupaten Semarang, Berita Merdeka Online — Suara gamelan menggema, derap langkah kaki terdengar serentak, sementara kibasan selendang para penari cilik memenuhi panggung di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Ratusan siswa sekolah dasar (SD) dari berbagai sekolah tampil penuh percaya diri dalam Lomba Tari Keprajuritan Tingkat SD se-Kecamatan Tengaran, Selasa (11/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda pendukung dalam rangkaian program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 Kodim 0714/Salatiga.

Sejak penampilan pertama dimulai, perhatian penonton langsung tertuju ke atas panggung. Para penari cilik bergerak kompak mengikuti irama gamelan, membawakan karakter prajurit yang gagah, disiplin, berani, dan pantang menyerah.

Kostum warna-warni yang dikenakan peserta semakin memperkuat daya tarik pertunjukan. Gerakan tangan, langkah kaki, hingga permainan selendang dilakukan secara serempak. Setiap kontingen sekolah berusaha menampilkan koreografi terbaik yang telah mereka persiapkan jauh sebelum perlombaan berlangsung.

Riuh tepuk tangan dan sorak dukungan terdengar dari sisi panggung. Guru, orang tua, serta para pendukung masing-masing sekolah memberikan semangat ketika anak-anak mereka tampil.

Bagi para peserta, panggung tersebut bukan sekadar arena perlombaan. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar tampil percaya diri, bekerja dalam tim, sekaligus mengenal lebih dekat kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya daerah.

Tari keprajuritan sendiri membawa pesan yang erat dengan nilai-nilai karakter. Melalui gerak dan ekspresi, anak-anak diperkenalkan dengan keberanian, kedisiplinan, ketangguhan, serta kekompakan.

Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika ditanamkan sejak usia sekolah dasar.
Atmosfer kompetisi berlangsung sengit, tetapi tetap dalam suasana persaudaraan. Masing-masing kontingen berusaha memberikan penampilan terbaik untuk membawa nama sekolah mereka, namun tetap saling memberikan apresiasi terhadap penampilan peserta lainnya.

Untuk menjaga objektivitas perlombaan, setiap penampilan dinilai oleh tim juri yang memperhatikan sejumlah unsur penting dalam seni tari, termasuk wiraga, wirama, dan wirasa.
Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas penampilan para penari. Bukan hanya ketepatan gerakan, tetapi juga kemampuan mengikuti irama dan menyampaikan ekspresi serta karakter tarian.

Di balik kemeriahan perlombaan, terdapat pesan yang lebih besar: menjaga kesenian tradisional membutuhkan regenerasi.
Generasi muda harus diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai budaya daerahnya sendiri. Sebab, tanpa adanya generasi penerus, kesenian tradisional berisiko kehilangan tempat di tengah derasnya perkembangan budaya modern.

Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak semata-mata berbicara mengenai pembangunan jalan, rumah, maupun fasilitas umum.
Dalam rangkaian TMMD Reguler ke-129, semangat pembangunan juga hadir melalui penguatan karakter, kebudayaan, pendidikan, dan kebersamaan masyarakat.

Panggung Tari Keprajuritan menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan pelestarian budaya. Para siswa tampil sebagai generasi penerus yang tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga mengenal nilai-nilai budaya melalui pengalaman langsung.
Kemeriahan acara turut dirasakan masyarakat yang hadir menyaksikan perlombaan. Tepuk tangan dan sorak dukungan membuat suasana semakin hidup sepanjang kegiatan.

Bagi para guru dan orang tua, penampilan anak-anak mereka menjadi kebanggaan tersendiri. Sementara bagi masyarakat Tengaran, kegiatan tersebut menjadi hiburan sekaligus pengingat bahwa kekayaan budaya harus terus dirawat bersama.
Lomba Tari Keprajuritan Tingkat SD se-Kecamatan Tengaran akhirnya bukan hanya melahirkan kompetisi seni, tetapi juga menghadirkan pesan tentang pentingnya keberanian, disiplin, kekompakan, dan cinta budaya.


Dari panggung sederhana di Tengaran, para penari cilik itu seolah menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya: budaya tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus terus ditarikan, diwariskan, dan dijaga.
(Ikhsan).


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.