Opini
Salman Ahda Ferdian
Warga Pangkalpinang
Wajah Kota Pangkalpinang kini terasa lebih cerah. Bukan semata karena faktor alam, melainkan karena hadirnya kepemimpinan baru yang membawa semangat pembenahan kota secara lebih terarah dan berkelanjutan. Sebagai Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pangkalpinang memikul peran strategis sebagai pusat pemerintahan sekaligus wajah pembangunan daerah. Oleh karena itu, setiap langkah kepemimpinan di kota ini selalu memiliki arti penting bagi masyarakat luas.
Optimisme publik kian menguat sejak dilantiknya Prof. Saparudin dan Dessy Ayutrisna sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pangkalpinang pada 15 Oktober 2025 oleh Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Keduanya merupakan putra-putri daerah yang tidak hanya memahami karakter geografis kota, tetapi juga denyut kehidupan sosial masyarakatnya. Pemahaman lokal ini menjadi modal berharga dalam merumuskan kebijakan yang relevan dan berpihak pada kebutuhan warga.

Sejak awal masa kepemimpinan, Prof. Udin dan Cece Dessy menunjukkan keseriusan dalam menata kota melalui agenda pembenahan di berbagai sektor. Salah satu perhatian utama adalah penanganan banjir, persoalan klasik yang selama bertahun-tahun dirasakan masyarakat Pangkalpinang. Banjir dipahami secara komprehensif, bukan sekadar persoalan alam, melainkan sebagai tantangan tata kelola perkotaan yang berkaitan dengan sistem drainase, pengelolaan lingkungan, dan perkembangan kawasan permukiman.
Pendekatan turun langsung ke lapangan menjadi ciri kepemimpinan awal pasangan ini. Kehadiran Wali Kota dan Wakil Wali Kota di titik-titik rawan banjir mencerminkan kepemimpinan yang responsif dan membumi. Langkah tersebut tidak hanya penting untuk memahami persoalan secara teknis, tetapi juga memiliki makna simbolik yang kuat: pemerintah hadir, melihat, dan mendengar langsung keluhan warganya. Dari sinilah kepercayaan publik mulai tumbuh dan harapan kembali menguat.
Upaya penanganan banjir juga diperkuat melalui pendekatan partisipatif. Pemerintah kota menghidupkan kembali semangat gotong royong dengan melibatkan camat dan lurah untuk bekerja bersama masyarakat membersihkan lingkungan. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa persoalan kota hanya dapat diselesaikan secara efektif melalui kolaborasi antara pemerintah dan warga.
Dari semangat kebersamaan tersebut lahir berbagai inisiatif positif, salah satunya program “KOLAK BEKO” (Kolaborasi Akbar Bersih Kota). Inisiatif ini menjadi contoh nyata bagaimana partisipasi masyarakat dapat berjalan seiring dengan kepemimpinan pemerintah. Kolaborasi semacam ini penting untuk membangun kebijakan lingkungan yang berkelanjutan dan menumbuhkan rasa memiliki warga terhadap kota mereka.
Di tingkat yang lebih luas, Wali Kota Pangkalpinang juga aktif memperjuangkan kepentingan daerah melalui komunikasi dengan pemerintah pusat. Advokasi terkait pembangunan dan peningkatan infrastruktur menunjukkan peran kepala daerah sebagai jembatan antara kebutuhan lokal dan kebijakan nasional. Harapan pun disematkan pada terbukanya dukungan anggaran melalui pembahasan APBN 2026 demi kemajuan Pangkalpinang.
Latar belakang akademik Prof. Udin turut memberi warna dalam perumusan kebijakan publik. Pemanfaatan teknologi pengelolaan sampah dengan kapasitas hingga 100 ton per hari menjadi langkah visioner yang berdampak ganda: meningkatkan kebersihan kota sekaligus mengurangi potensi banjir akibat saluran air yang tersumbat. Selain itu, pengelolaan sampah yang sistematis membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan produk turunan.
Pengaktifan kembali TPS3R Kawa Begawe di Kelurahan Selindung yang sebelumnya terbengkalai menjadi bukti konkret komitmen tersebut. Fasilitas publik yang kembali berfungsi tidak hanya memberi manfaat langsung bagi masyarakat, tetapi juga menunjukkan adanya kemauan politik untuk mengoptimalkan aset daerah demi kepentingan bersama.
Seratus hari pertama kepemimpinan memang belum cukup untuk menuntaskan seluruh persoalan kota. Namun, periode ini menjadi penanda penting arah kepemimpinan yang sedang dibangun. Langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Prof. Udin dan Cece Dessy mencerminkan komitmen terhadap tata kelola kota yang responsif, partisipatif, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Bagi masyarakat Pangkalpinang, kehadiran pemimpin yang bekerja, mendengar, dan hadir di tengah warga merupakan awal yang baik untuk menumbuhkan kembali kepercayaan serta harapan. Semoga semangat ini terus terjaga demi Pangkalpinang yang lebih tertata, bersih, dan bermartabat.




Tinggalkan Balasan