SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti ingin membawa kegiatan sastra keluar dari gedung pertunjukan dan ruang-ruang eksklusif. Berbagai ruang publik, mulai dari Kota Lama hingga Lawang Sewu, disiapkan menjadi panggung ekspresi bagi penulis, penyair, dan masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari rencana penyelenggaraan Writers and Readers Festival pada 2027. Festival sastra itu dirancang berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan sastrawan dari Semarang maupun berbagai daerah.
Agustina menyampaikan rencana tersebut saat menghadiri kegiatan Semarang Berpuisi bertema “Dari Kata Menjadi Karya” di Hall Balai Kota Semarang, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, kegiatan sastra tidak harus selalu diselenggarakan di gedung pertunjukan dengan panggung besar dan fasilitas mewah. Ruang terbuka justru bisa menjadi alternatif untuk mempertemukan karya sastra dengan masyarakat luas.
“Kita akan membuat di Kota Lama, kita akan membuat di Lawang Sewu. Mungkin seru-seruan kita membuat di bundaran. Itu akan menjadi sebuah pertemuan yang bagus,” ungkapnya.
Selain kawasan Kota Lama dan Lawang Sewu, pusat buku bekas di kawasan Stadion serta sejumlah ruang publik lainnya juga berpeluang menjadi lokasi kegiatan.
Agustina berharap, pemanfaatan ruang publik tersebut membuat sastra lebih mudah diakses masyarakat. Dengan demikian, aktivitas membaca, menulis, dan menikmati puisi tidak hanya berlangsung di kalangan komunitas seni, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Untuk merealisasikan rencana tersebut, Agustina mendorong Dinas Arsip dan Perpustakaan (Arpus) berkolaborasi dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta organisasi perangkat daerah lainnya.
Kolaborasi itu diharapkan tidak hanya menghidupkan kegiatan kesenian, tetapi juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, pelaku UMKM, dan sektor pariwisata.
Ia juga menekankan pentingnya membuka ruang bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para sastrawan senior. Menurutnya, kemampuan bersastra membutuhkan proses panjang melalui membaca, mengenal karya pendahulu, dan terlibat dalam kegiatan kesenian.
Melalui festival tersebut, Agustina ingin menjadikan Semarang sebagai kota yang tidak hanya kaya destinasi wisata dan bangunan bersejarah, tetapi juga memiliki kehidupan sastra dan kebudayaan yang tumbuh bersama masyarakat.(day)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan