Bengkulu, Beritamerdekaonline.com — Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, memperkuat gerakan literasi masyarakat melalui kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026.

Kegiatan tersebut digelar di Aula Rafflesia Kantor Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, Minggu (6/9/2026), dengan tujuan memperluas penyebarluasan bahan bacaan literasi sekaligus meningkatkan pemanfaatan bahan bacaan yang telah dikembangkan untuk mendukung penguatan literasi di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., mengatakan penguatan literasi merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan yang bermutu dan dapat diakses oleh semua kalangan.
“Ini sebagai wujud nyata dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui pendidikan bermutu untuk semua. Penguatan partisipasi semesta menjadi salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” ujar Hafidz.
Menurut Hafidz, penguatan literasi tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri. Diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, media massa, komunitas, hingga pengelola ruang publik.
Ia mengatakan kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan literasi, khususnya di Kota Bengkulu dan Provinsi Bengkulu secara umum.
Hafidz menilai salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah tingkat literasi anak yang perlu terus ditingkatkan. Karena itu, akses terhadap sumber bacaan bermutu menjadi salah satu langkah yang harus diperkuat.
“Kita mencoba meningkatkan akses sumber bacaan bermutu, baik di lingkungan sekolah, komunitas, masyarakat, satuan pendidikan, tempat-tempat publik, termasuk di bandara, perpustakaan umum, TBM, dan PKBM,” katanya.
Ia menambahkan, ketersediaan bahan bacaan harus diikuti dengan pemanfaatan secara optimal. Dengan demikian, buku tidak hanya tersedia di berbagai tempat, tetapi benar-benar digunakan sebagai sumber pengetahuan oleh masyarakat.
Selain penguatan literasi, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga mendorong peningkatan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik.
Hafidz mengatakan masih ditemukan penggunaan bahasa Indonesia yang belum sesuai dengan kaidah, termasuk penggunaan istilah asing pada papan nama, nama gedung, kompleks perumahan, informasi publik, tata naskah dinas, hingga produk peraturan pemerintah daerah.
“Kita harapkan naskah dinas kita perbaiki, papan-papan pengumuman juga kita perbaiki, ruang publik juga kita perbaiki,” tegasnya.
Untuk mendukung upaya tersebut, telah dibentuk Tim Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota.
Tim tersebut memiliki sejumlah tugas, mulai dari melakukan sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia, memantau ruang publik yang belum sesuai dengan kaidah, memberikan pendampingan perbaikan, hingga melakukan evaluasi.
“Tim pengawasan penggunaan bahasa Indonesia inilah yang nanti akan bekerja untuk melakukan sosialisasi bagaimana bahasa Indonesia digunakan dengan benar. Kemudian melakukan pemantauan mana saja ruang-ruang publik yang belum sesuai dengan kaidah, melakukan pendampingan, dan melakukan evaluasi,” jelas Hafidz.
Pembentukan tim tersebut mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Pedoman Pengawasan Penggunaan Bahasa Indonesia.
Di Provinsi Bengkulu, tim pengawasan penggunaan bahasa Indonesia telah dibentuk di sejumlah wilayah, termasuk Kota Bengkulu, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Bengkulu Utara.
Selain bahasa Indonesia, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap keberlangsungan bahasa daerah di Provinsi Bengkulu.
Hafidz menyebut sejumlah bahasa daerah yang perlu terus dilestarikan, antara lain bahasa Enggano, bahasa Rejang, dan bahasa Bengkulu.
Pelestarian dilakukan melalui program revitalisasi bahasa daerah yang menyasar peserta didik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Pendekatan yang digunakan dibuat menyenangkan dan disesuaikan dengan minat anak. Sejumlah kegiatan dapat dilakukan melalui lomba menyanyi, pidato, komedi tunggal, menulis cerita pendek, hingga bercerita menggunakan bahasa daerah.
“Ini mengutamakan bagaimana anak-anak kita bisa mengasah kemampuan dan mencintai bahasa daerahnya,” ujar Hafidz.
Menurutnya, pelestarian bahasa daerah juga membutuhkan keterlibatan komunitas dan para pegiat bahasa serta sastra daerah.
Pemerintah memberikan dukungan pembinaan kepada komunitas yang aktif dalam melestarikan bahasa daerah. Selain itu, kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi terus diperkuat untuk memperkaya bahan bacaan bermutu.
“Yang kita upayakan juga adalah meningkatkan peran para pegiat dan pelestari bahasa daerah. Komunitas pegiat dan pelestari kita berikan pembinaan untuk meningkatkan peran serta mereka,” katanya.
Bahan bacaan berbahasa daerah juga akan dikembangkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pembaca sekaligus memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya daerah kepada masyarakat.
Balai Bahasa Provinsi Bengkulu juga mendorong digitalisasi bahan bacaan melalui platform pembelajaran digital. Buku-buku yang memuat bahasa daerah diharapkan dapat diakses masyarakat secara lebih luas melalui buku digital.
Hafidz mengatakan penguatan bahasa Indonesia juga diarahkan untuk meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional.
Upaya tersebut dilakukan secara sistematis, bertahap, dan berkelanjutan melalui kerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Bengkulu maupun tenaga kerja asing yang bekerja di daerah tersebut dapat memperoleh pembekalan bahasa Indonesia.
“Kita membekali para mahasiswa asing yang belajar di Bengkulu dan juga para pekerja asing yang bekerja di Bengkulu dengan penguasaan bahasa Indonesia,” ujarnya.
Ia berharap para penutur asing tersebut dapat menjadi duta Indonesia ketika kembali ke negara masing-masing karena memiliki kemampuan berbahasa Indonesia sekaligus mengenal budaya dan berbagai potensi Indonesia.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Bengkulu Andriana Yohan, S.S., M.A., mengatakan kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026 merupakan bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan bermutu.
“Melalui kegiatan diseminasi ini, kami ingin memastikan bahan bacaan literasi yang telah dikembangkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, khususnya di lingkungan pendidikan. Kami berharap bahan bacaan ini dapat menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan minat baca dan memperkuat budaya literasi di Provinsi Bengkulu,” ujar Andriana.
Ia menilai keberadaan bahan bacaan bermutu perlu diimbangi dengan keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar gerakan literasi dapat berkembang secara berkelanjutan.
Menurutnya, sekolah, keluarga, komunitas, perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung budaya membaca.
Diseminasi juga diharapkan menjadi sarana untuk memperkenalkan bahan bacaan yang telah dikembangkan kepada masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
Anggota Komisi X DPR RI Dr. drh. Hj. Dewi Coryati, M.Si., turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia memberikan apresiasi terhadap upaya Balai Bahasa Provinsi Bengkulu dalam memperkuat literasi melalui penyediaan dan penyebarluasan bahan bacaan bermutu.
“Literasi merupakan bagian penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, bahan bacaan yang bermutu harus terus diperluas aksesnya dan dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama anak-anak dan generasi muda,” kata Dewi Coryati.
Ia berharap kegiatan diseminasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat mendorong masyarakat untuk semakin aktif membaca dan memanfaatkan bahan bacaan sebagai sumber pengetahuan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Dengan akses bacaan yang semakin luas, anak-anak dan generasi muda di Bengkulu diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan literasi yang semakin baik,” ujarnya.
Dewi juga menilai penguatan literasi perlu dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, komunitas, dan masyarakat harus mengambil bagian dalam menciptakan ekosistem literasi yang kuat.
Kegiatan Diseminasi Bahan Bacaan Literasi Tahun 2026 tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, literasi, kebahasaan, dan kesastraan di Provinsi Bengkulu.
Melalui perluasan akses terhadap bahan bacaan bermutu, peningkatan penggunaan bahasa Indonesia sesuai kaidah, serta pelestarian bahasa dan sastra daerah, penguatan literasi di Bengkulu diharapkan dapat berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan