Kabupaten Semarang, Berita Merdeka Online — Tidak ada kursi empuk, tidak ada meja panjang. Hanya potongan kayu sisa material yang tergeletak di sekitar lokasi sasaran fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-129 di Desa Cukil, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang.
Namun, bagi prajurit TNI dan warga setempat, benda sederhana itu justru menjadi tempat melepas lelah sekaligus mempererat keakraban.
Pemandangan hangat tersebut terlihat Selasa (11/8/2026), ketika personel Satgas TMMD bersama masyarakat mengambil waktu istirahat setelah beberapa jam bergotong royong menyelesaikan pekerjaan pembangunan di lokasi.
Potongan balok kayu yang semula hanya menjadi sisa material bangunan mendadak berubah fungsi menjadi tempat duduk bersama. Para prajurit dan warga duduk berdampingan tanpa sekat, meluruskan kaki sembari berbincang santai.
Obrolan pun mengalir begitu saja. Mulai dari pekerjaan yang sedang dilakukan, kondisi lingkungan desa, pengalaman sehari-hari, hingga cerita ringan yang diselingi tawa.
Sesekali camilan dan hidangan sederhana disantap bersama. Suasana yang tercipta jauh dari kesan formal. Tidak terlihat batas antara prajurit dan masyarakat.
Slamet (45), salah satu warga Desa Cukil, mengatakan momen istirahat bersama tersebut justru menjadi bagian yang paling dinanti setelah bekerja cukup lama.
“Sambil duduk luruskan kaki di atas kayu ini, kita bisa ngobrol bebas. Rasanya tidak ada jarak lagi, sudah seperti keluarga sendiri yang sedang kerja bakti membangun desa,” ujar Slamet.
Bagi warga, kebersamaan semacam itu membuat kehadiran prajurit TNI terasa semakin dekat. Mereka bukan hanya datang untuk mengerjakan sasaran fisik TMMD, tetapi juga berbaur dalam kehidupan masyarakat.
Begitu pula bagi personel Satgas, interaksi dengan warga menjadi bagian penting dari pelaksanaan TMMD. Pembangunan fisik berjalan beriringan dengan pembangunan hubungan sosial.
Potongan kayu yang secara fungsi sebenarnya hanya merupakan material bangunan, akhirnya menjadi saksi kecil dari proses tersebut.
Di atas kayu sederhana itu, komunikasi terjalin tanpa protokol. Prajurit dan warga saling bertukar cerita, bercanda, sekaligus membangun rasa saling percaya.
Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata kemanunggalan TNI dan rakyat. Sebab, kedekatan tidak selalu dibangun melalui kegiatan resmi, tetapi dapat tumbuh dari hal-hal sederhana—seperti duduk bersama setelah bekerja.
Semangat gotong royong pun semakin terasa. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi ikut terlibat langsung membantu personel Satgas menyelesaikan berbagai sasaran fisik TMMD Reguler ke-129.
Bagi masyarakat Desa Cukil, kehadiran Satgas TMMD meninggalkan lebih dari sekadar bangunan dan infrastruktur. Ada pengalaman kebersamaan, persaudaraan, dan cerita yang akan terus dikenang setelah program TMMD berakhir.

Dan di tengah hiruk-pikuk pembangunan desa, potongan kayu sederhana itu menjadi simbol bahwa untuk menciptakan kedekatan antara TNI dan rakyat, terkadang tidak dibutuhkan tempat mewah—cukup duduk bersama, berbagi cerita, dan bekerja dalam semangat gotong royong.
(Ikhsan).
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan