Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bengkulu menyelenggarakan workshop bertajuk Penguatan Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dalam Situasi Bencana. Acara ini berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 9 hingga 11 Desember 2024, bertempat di Ruang Pertemuan Hotel Adeeva Bengkulu.

Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Bengkulu menyelenggarakan workshop bertajuk Penguatan Layanan Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja dalam Situasi Bencana.


‎Workshop ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman mengenai hak kesehatan seksual dan reproduksi remaja pada situasi bencana, serta meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pelibatan remaja yang bermakna dalam manajemen kebencanaan. Peserta yang hadir terdiri dari relawan remaja PKBI dan staf PKBI Daerah Bengkulu.

‎Para narasumber dan fasilitator dalam workshop ini adalah Dr. Syaiful Anwar AB (Ketua PD PKBI Bengkulu), Aida Fikhriati, STr.Keb (TRC Bengkulu), M. Rizki Hermawan (PO Remaja PKBI Nasional), Nurkholis Sastro (Sekretaris PD PKBI Bengkulu), Abdul Salim Ali Siregar (DED PKBI Bengkulu), dan Antoni (Program Manager PKBI Bengkulu).

‎Dalam sambutannya, Ketua Pengurus PKBI Daerah Bengkulu, Dr. Syaiful Anwar AB, menegaskan peran PKBI sebagai organisasi sosial yang menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia, dengan fokus pada isu kesehatan dan pemberdayaan.

‎”PKBI juga telah aktif dalam gerakan kemanusiaan di Indonesia, terutama dalam memberikan respons bencana di daerah-daerah terdampak yang sulit dijangkau,” ujarnya.

‎Ia menyampaikan bahwa PKBI memprioritaskan penanggulangan bencana pada sektor kesehatan reproduksi, yang mencakup layanan kesehatan, informasi, edukasi, dan pemberdayaan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang rentan, seperti remaja.

‎Remaja, sesuai definisi WHO (10–19 tahun) dan Kementerian Kesehatan RI (10–18 tahun), berada dalam fase pertumbuhan fisik, kognitif, dan psikososial yang pesat. Dalam situasi bencana, remaja merupakan kelompok rentan, namun juga memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak perubahan.

‎”Oleh karena itu, PKBI menilai pentingnya penguatan peran remaja melalui pendekatan yang responsif dan ramah remaja,” tambahnya.

‎Pelibatan remaja dalam manajemen kebencanaan meliputi mitigasi risiko, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana. Agar pelibatan tersebut bermakna, diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk menciptakan relasi positif antara remaja dan orang dewasa.

‎Dr. Syaiful berharap melalui workshop ini, remaja dapat memahami kebutuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi mereka dalam situasi bencana.

‎”Selain itu, pelatihan ini diharapkan mampu mendorong pelibatan remaja yang inklusif dan bermakna dalam manajemen kebencanaan,” harap Syaiful.

‎Selama tiga hari ke depan, peserta akan mengikuti berbagai sesi diskusi, simulasi, dan studi kasus yang dirancang untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Kegiatan ini menjadi langkah strategis PKBI Bengkulu untuk memastikan bahwa remaja dapat berperan aktif dan memiliki kapasitas dalam menghadapi tantangan di masa depan.

‎Dengan demikian, workshop ini tidak hanya memperkuat pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan seksual, tetapi juga memperkuat sinergi antara remaja dan para pemangku kepentingan dalam mewujudkan manajemen kebencanaan yang inklusif dan responsif.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.