SEMARANG, Berita Merdeka Online – Pelaksanaan proyek drainase dan penataan taman di kawasan Simpang Lima, Kota Semarang, berbarengan dengan agenda Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Nasional pada 12 September 2026. Kondisi tersebut mendapat sorotan DPRD Kota Semarang karena dinilai menunjukkan kurang sinkronnya perencanaan antarlembaga.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Dini Inayati, mengatakan proyek fisik di kawasan Simpang Lima sebenarnya telah dianggarkan sejak pembahasan APBD 2025 untuk dilaksanakan pada tahun anggaran 2026.

Menurutnya, proyek tersebut tetap harus berjalan karena berkaitan dengan penanganan banjir sekaligus pembenahan kawasan yang menjadi salah satu ikon Kota Semarang.

“Proyek drainase dan penataan taman di Simpang Lima ini sudah dianggarkan sejak 2025 untuk dilaksanakan tahun 2026. Ini proyek vital penanganan banjir sekaligus pembenahan wajah Kota Semarang, jadi memang tidak bisa ditunda dan harus tetap dilaksanakan,” kata Dini saat ditemui di DPRD Kota Semarang, Senin (31/8).

Namun, karena Simpang Lima juga menjadi pusat kegiatan MTQ Nasional, Dini meminta Pemkot Semarang segera menyiapkan langkah mitigasi agar pekerjaan konstruksi tidak mengganggu agenda berskala nasional tersebut.

Dini meminta area proyek dirapikan sehingga tidak mengurangi citra Simpang Lima sebagai salah satu etalase Kota Semarang.

“Jangan sampai material proyek yang terhampar acak memberi kesan kotor dan mencoreng citra daerah di mata ribuan kafilah serta tamu undangan dari berbagai daerah,” ujarnya.

Aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Area galian drainase dan pekerjaan taman yang masih terbuka dinilai berpotensi membahayakan peserta MTQ maupun masyarakat apabila tidak diamankan dengan baik.

Pemkot diminta memasang barikade yang kokoh, menambah penerangan, serta menyediakan rambu peringatan di titik-titik rawan.

“Keselamatan bagi warga dan peserta MTQ yang akan datang ke Simpang Lima harus diperhatikan. Pemkot harus fokus ke situ, misalnya ada barikade khusus di sekitar lokasi proyek atau penerangan tambahan,” terangnya.

Dini juga meminta Pemkot Semarang berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau kondisi cuaca menjelang pelaksanaan MTQ pada 12 September. Antisipasi limpasan air perlu disiapkan mengingat pengerjaan drainase belum sepenuhnya rampung.

“Jalur pembuangan air darurat harus dipastikan berfungsi agar genangan tidak mengganggu jalannya acara utama jika hujan turun,” katanya.

PKL dan Lalu Lintas Juga Jadi Perhatian

Selain proyek fisik, politikus PKS tersebut meminta penataan pedagang kaki lima (PKL) yang terdampak pembangunan ikut diperhatikan. Menurutnya, MTQ Nasional dapat menjadi momentum ekonomi bagi para pedagang karena banyaknya masyarakat dan tamu dari berbagai daerah yang datang ke Semarang.

“Penataan PKL juga harus dipikirkan dengan baik, ini momen para PKL mremo karena event nasional dan akan banyak orang datang ke Semarang. Ini jadi kesempatan mendongkrak ekonomi di Semarang. Jangan sampai mereka terlantar,” tegasnya.

Dini juga mengingatkan potensi kemacetan akibat meningkatnya aktivitas masyarakat di sekitar Simpang Lima. Pemkot melalui Dinas Perhubungan bersama Satlantas Polrestabes Semarang diminta menyiapkan rekayasa lalu lintas yang adaptif.

Selain itu, kantong parkir darurat perlu disiapkan secara memadai. Akses bagi ambulans dan kendaraan darurat juga harus tetap terbuka selama kegiatan berlangsung.

Dini menilai koordinasi antarpihak seharusnya dilakukan sejak awal karena pemerintah telah mengetahui adanya proyek drainase dan penataan taman di kawasan tersebut pada 2026.

“Eksekutif, baik Ibu Wali Kota, Pak Sekda, hingga OPD terkait kan sudah tahu bahwa ada proyek drainase dan taman di 2026 ini. Harusnya ada koordinasi yang lebih matang sejak awal. Sekarang tinggal bagaimana Pemkot memitigasi poin-poin tersebut agar ajang MTQ sukses dan pembangunan penanganan banjir tetap berjalan,” pungkasnya.(day)Proyek Simpang Lima Semarang


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.