LEBONG, Berita Merdeka Online Dugaan tindakan pelecehan terhadap seorang siswa SMK yang sedang menjalani kegiatan magang di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, terus menjadi sorotan.

Peristiwa tersebut disebut terjadi pada Kamis sore, 27 Agustus 2026, di ruang kerja seorang oknum kepala dinas di Kabupaten Lebong.

Informasi mengenai dugaan kejadian tersebut kemudian beredar dan mendapat perhatian masyarakat. Oknum kepala dinas yang dikaitkan dengan dugaan tersebut sebelumnya telah membantah tuduhan yang beredar.

Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh kepala desa yang mengaku mengetahui persoalan tersebut setelah siswa yang dalam pemberitaan ini disebut dengan nama samaran Mawar menceritakan apa yang dialaminya.

Dugaan pelecehan siswa magang di Lebong menjadi sorotan setelah kades mengungkap keterangan keluarga dan korban.

 

Mawar Disebut Mengaku kejadian yang sebenar benarnya, di Hadapan Orang Tuanya

Menurut keterangan kepala desa, Mawar telah menyampaikan pengakuan mengenai dugaan pelecehan yang dialaminya kepada kepala desa.

Pengakuan tersebut, menurut kepala desa, disampaikan di hadapan orang tua Mawar.

Kepala desa juga menjelaskan bahwa dalam kejadian tersebut disebut terdapat tekanan terhadap siswa magang, berupa ancaman bahwa nilai magang siswa tidak akan diberikan.

“Menurut keterangan yang saya terima, ada pengancaman kepada siswa magang bahwa nilainya tidak akan diberikan,” ungkap kepala desa.

Keterangan tersebut menjadi salah satu bagian yang perlu didalami untuk memastikan secara terang apa yang sebenarnya terjadi di ruang kerja oknum kepala dinas tersebut.

Oknum Kadis Disebut Meminta Maaf kepada Keluarga setalah kejadian itu, keluarga menjelaskan kamis malam Jum’at kadis datang bersama dengan kemungkinan sopirnya, sekitar jam 8 setelah sholat isya.

Persoalan kemudian berkembang setelah dugaan kejadian tersebut diketahui keluarga.

Menurut keterangan kepala desa, oknum kepala dinas yang bersangkutan kemudian meminta maaf kepada keluarga Mawar.

“Banar jika oknum tersebut datang kerumah Korban dengan meminta maaf danengakui semua perbuatannya dengan penyampaian bahwa dia Telah ‘Khilaf’.”tegas kepal desa

Bahkan, kepala desa mengungkapkan bahwa permintaan maaf tersebut dilakukan secara langsung kepada ayah Mawar dan oknum kepala dinas disebut bersujud di kaki ayah siswa.

“Itu disaksikan oleh keluarga korban dan ada perangkat desa juga karna saya sedang tidak bisa hadir disana”.sambung kades

Keterangan tersebut disampaikan kepala desa sebagai bagian dari informasi yang diketahuinya terkait proses setelah dugaan kejadian tersebut.

Muncul Pembicaraan Uang Rp20 Juta

Setelah permintaan maaf tersebut, menurut keterangan kepala desa, muncul pula persoalan mengenai uang sebesar Rp20 juta yang disebut berkaitan dengan upaya perdamaian.

Kepala desa menjelaskan, nominal Rp20 juta tersebut benar adanya, uang itu disebutkan sendiri nominalnya oleh oknum kepala dinas, bukan merupakan nominal yang diminta oleh orang tua Mawar.

Orang tua Mawar, menurut keterangan kepala desa, tidak menggubris atau tidak menanggapi tawaran uang tersebut.

Namun, persoalan kemudian berlanjut dengan adanya seseorang yang disebut utusan oknum kepala dinas untuk menemui keluarga korban kembali, dalam rangka membicarakan perdamaian.

“Uang Rp20 juta itu oknum kadis sendiri yang mengatakan dan menyebutkan nominalnya. Orang tua tidak menggubris uang tersebut. Kemudian ada orang yang diutus untuk meminta perdamaian,” ungkap kepala desa.

Dengan demikian, berdasarkan keterangan kepala desa, pembicaraan mengenai uang tersebut disebut bukan berawal dari permintaan orang tua siswa, melainkan nominal Rp20 juta disebutkan oleh oknum kepala dinas itu sendiri.

Sebagai pejabat publik, yang selalu Disorot, oknum kepala dinas telah membantah dugaan pelecehan tersebut.

Perbedaan keterangan ini membuat persoalan tersebut perlu diungkap secara menyeluruh. Termasuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di ruang kerja oknum kepala dinas, bagaimana bentuk tekanan yang disebut dialami siswa, serta bagaimana proses permintaan maaf dan pembicaraan perdamaian berlangsung.

Begitu pula dengan informasi mengenai Rp20 juta, perlu dipastikan melalui keterangan para pihak dan bukti yang ada apakah uang tersebut benar ditawarkan, dalam konteks apa, serta siapa saja yang terlibat dalam pembicaraan tersebut.

Kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut siswa yang sedang menjalani kegiatan magang dan seorang pejabat di lingkungan pemerintahan daerah.

Publik kini menunggu klarifikasi dari seluruh pihak serta langkah pihak berwenang untuk memastikan persoalan tersebut berdasarkan fakta, keterangan saksi, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. (ML)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.