Padang Panjang, Beritamerdekaonline.com — Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) tidak cukup hanya menjadi program administratif pemerintah. Keberhasilannya harus terlihat dari kemampuan menemukan kasus lebih dini, memastikan pengobatan hingga sembuh, serta mencegah penularan.

Hal itu disampaikan Guru Besar Tetap Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Prof. Dr. dr. Rizanda Machmud, M.Kes., FISPH., FISCM., SpKKLP., usai memberikan materi dalam Sosialisasi Kelurahan Siaga Tuberkulosis tingkat Kota Padang Panjang di Auditorium Mifan Padang Panjang, Jumat, 18 September 2026.

Dalam bincang-bincangnya bersama Ketua PWI Padang Panjang Supriyanto alias Bento, Rizanda menyebut Kelurahan Siaga TBC sebagai salah satu strategi penting dalam penanggulangan TBC berbasis masyarakat.

“Keberhasilan membutuhkan komitmen pemerintah daerah, pemerintah kelurahan, puskesmas, kader, masyarakat, dan lintas sektor,” ujarnya.

Menurut Rizanda, komitmen tersebut perlu diperkuat dengan kebijakan, perencanaan dan dukungan anggaran daerah. Pemanfaatan dana desa juga dapat mendukung kegiatan promotif, preventif, deteksi dini, edukasi, serta pendampingan terhadap pasien TBC.

Prof Rizanda: Kelurahan Siaga TBC Harus Berujung pada Penemuan Kasus dan Pengobatan hingga Sembuh

Namun, ia menekankan keberhasilan program tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan. Ukuran utamanya adalah hasil di lapangan.

“Keberhasilan diukur dari aksi nyata. Penemuan kasus lebih dini, pengobatan sampai sembuh, pemberian TPT pada kontak yang memenuhi syarat, pengurangan stigma, serta monitoring berkelanjutan,” katanya.

Rizanda mengatakan upaya penanggulangan TBC membutuhkan keterlibatan masyarakat karena penyakit tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengobatan pasien, tetapi juga pencegahan penularan dan pengurangan stigma terhadap penderita.

“Kelurahan Siaga TBC bukan sekadar program, tetapi gerakan bersama untuk menemukan, mengobati, mencegah penularan, dan mendampingi pasien sampai sembuh menuju Eliminasi TBC 2030,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya deteksi dini dan kepatuhan terhadap pengobatan sebagai bagian dari upaya memutus mata rantai penularan TBC.

“Temukan TBC lebih dini, obati TBC sampai sembuh, cegah penularan, lindungi sesama, tanpa stigma, dengan dukungan, dan monitoring berkelanjutan untuk hasil yang lebih baik,” katanya.

(Charles Nasution)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.